Javascript DHTML Drop Down Menu Powered by dhtml-menu-builder.com

Dialog adalah Keniscayaan, Kata Uskup

Rabu, 28 Juli 2010 22:54:14 - oleh : admin

hak
“Saya khawatir, yang sibuk memikirkan dialog adalah Katolik dan Kristen. Yang merasakan ini penting adalah kita saja.”
 
Kekhawatiran itu  diungkapkan salah seorang peserta dalam pertemuan bersama se Regio Jawa Komisi Hubungan Antar Agama (HAK) dan Komisi Seminari KWI. Pertemuan yang berlangsung di Hening Griya tersebut diantar dengan paparan dua uskup, yaitu Uskup Bandung Mgr Johannes Pujasumarta Pr dan Uskup Purwokerto Mgr Julianus Sunarka. Kegiatan yang mulai Rabu, 28 Juli akan berakhir Jumat 30 Juli.

Kekhawatiran peserta di atas terbantahkan ketika mendengarkan paparan dari Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Banyumas Dr. H. Moh. Roqib, M.Ag. Kiai Roqib memaparkan upaya-upaya yang pernah ia dan teman-teman umat Muslim lakukan untuk membangun kerukunan. “Saya memiliki beban lebih berat sekarang,” kata dosen STAIN Purwokerto tersebut.

Kiai Roqib mengungkapkan sepeninggal KH Dr Noer Iskandar Al-barsany atau Gus Noer (Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Karang Suci) tidak ada lagi orang yang dituakan seperti almarhum. Hal serupa terjadi di tingkat nasional sepeninggal Gus Dur. Sebagai ketua FKUB dirinya mengaku harus berupaya lebih keras.

“Maka saya sekarang memulai membangun pesantren mahasiswa. Harapannya, para mahasiswa itu lebih mudah diajak bicara dan memahami ajaran inklusif,” kata Kiai Roqib.

Sebelum paparan dan diskusi bersama Mohammad Roqib, para peserta mendengarkan paparan pengalaman, impian dan harapan Mgr Pudjasumarta dan Mgr Sunarka. Mgr Pujasumarta menegaskan, “Dialog adalah keniscayaan.”

“Imam-imam perlu meninggalkan zona aman mereka dan pergi menerobos ke tempat lain,” tambah Uskup Bandung tersebut.

Sementara itu Mgr Sunarka mengungkapkan pentingnya dialog kehidupan. “Bahan dialog perlu memperhatikan konteks lokal. Di Keuskupan Purwokerto permasalahan mengenai pengobatan alternative menjadi bahan dialog yang menarik,” kata Mgr Sunarka.

Pembicara lain dalam pertemuan hari pertama adalah aktivis masyarakat sipil di Banyumas FA Agus Wahyudi. Agus mengharapkan agar imam memiliki kemampuan menganalisa pemangku kepetingan gereja (stakeholders). Ia juga mengharapkan agar para imam bisa terlibat dalam kehidupan bermasyarakat. “Hadir dalam perayaan-perayaan kegiatan hari besar nasional, dengan mengenakan jubah,” usulnya. tr

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Berita Terkini" Lainnya