Javascript DHTML Drop Down Menu Powered by dhtml-menu-builder.com

Mengasah Kapak

Minggu, 18 Juli 2010 22:59:26 - oleh : admin

rtm_kapak
Renungan Minggu XVI/C


Pastor Yohanes Suratman
 

Seorang umat bercerita kalau dirinya sedang malas mengikuti kegiatan-kegiatan gerejani. Sudah lama dia tidak lagi mengikuti misa minggu. Bahkan ia juga menjadi malas untuk hidup. Alasannya katanya selama ini kegiatan-kegiatan gerejani dan aktivitas hidupnya tak memberikan kepuasan batin. Segala kegiatan yang ia jalani tidak lebih membahagiakan daripada sebelumnya.
 
Merasa malas untuk menjalani hidup, bisa terjadi karena mungkin kita kehilangan kekuatan yang berasal dari Tuhan. Sebab terlepas dari Tuhan, orang memang tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi. Hidup itu bisa digambarkan seperti ranting dengan pohon. Kalau ranting-ranting itu terlepas dari pohonnya, ia akan kering dan tak mungkin hidup, apalagi berbuah. Satu-satunya cara agar ranting itu tetap hidup, ia harus menyatu dengan pohonnya (bdk. Yoh 15:1-8).
 
Demikianlah supaya semangat hidup kita tetap menyala dan jiwa kita tetap segar, kita mutlak perlu berkomunikasi dengan Tuhan Sang Sumber Hidup. Injil hari ini memberikan contoh mengenai cara berkomunikasi dengan Tuhan secara baik (lih. Lukas 10:38-42).
 
Dikisahkan ada dua wanita, Marta dan Maria, namanya. Mereka kedatangan Yesus. Marta sibuk di dapur menyiapkan minuman dan makanan untuk menjamu Yesus yang hadir. Dia merasa harus berbuat sesuatu untuk menjamu Tuhan. Dia tak ingin nanti dikatakan jamuannya Ibu Marta tidak seperti Ibu Anu, rasanya hambar dan tak meriah. Dia mondar-mandir icip ini, icip itu dan perintah ini perintah itu. Marta cemas dan menyusahkan diri dengan aneka macam makanan dan minuman, yang seolah-olah itulah cara yang paling penting untuk menyambut Yesus. Maka Marta menegur Yesus yang tak peduli dengan kepincangan pelayanan itu. Marta minta supaya Yesus menegur Maria yang hanya duduk diam, tidak ikut melayani. Tetapi Yesus bukannya menegur tetapi malah memuji Maria yang telah memilih bagian yang terbaik. Maria duduk mendengarkan di dekat kaki Yesus.
 
Yesus tidak menentang sikap keramahan dan pelayanan Marta, tetapi bukan cara itu yang paling penting untuk berkomunikasi denganNya. Yesus datang bukannya menginginkan supaya dijamu dengan suguhan “super wahid seperti mendoan anget dan kripik renyah banyumasan atau getuk goreng asli sokaraja”, tetapi supaya Ia didengarkan.  
 
Mengapa mendengarkan merupakan hal yang utama dalam berkomunikasi dengan Tuhan? Mendengarkan adalah memberikan perhatian penuh kepada Tuhan dan  membiarkanNya masuk ke dalam pribadi kita. Dengan sikap mendengarkan seperti itu, kita mengundang Tuhan untuk menjadi sahabat kita.
 
Kata orang bijak, mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri. Begitulah jika Tuhan menjadi sahabat sejati kita,  harganya sungguh tiada tara. Maka sesibuk-sibuknya kita, jangan pernah kita mengabaikan Tuhan dalam hidup kita.
 
Barangkali kisah berikut ini dapat memotivasi kita agar kita tetap selalu menyertakan Tuhan dalam hidup kita.
 
Alkisah ada seorang pemotong kayu yang sangat kuat. Dia melamar sebuah pekerjaan ke seorang pedagang kayu dan ia mendapatkannya. Gaji dan kondisi kerja yang diterimanya sangat bagus. Karenanya sang pemotong kayu memutuskan untuk bekerja sebaik mungkin.
 
Sang majikan memberinya kapak dan menunjukkan area kerjanya. Hari pertama sang pemotong kayu berhasil memotong 18 batang pohon. Sang majikan sangat terkesan dan berkata, “Selamat. Kau bekerja sangat baik. Kerjakan seperti itu untuk selanjutnya!”
 
Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan harinya sang pemotong kayu itu bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 15 batang pohon. Hari ketiga dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hanya berhasil merobohkan 10 batang pohon. Hari-hari berikutnya pohon yang berhasil dia robohkannya makin sedikit.
 
Sang pemotong kayu nampak lemah dan frustrasi dengan hasil pekerjaannya yang makin menurun. Ia bertanya-tanya dalam hatinya, “Kenapa saya makin lemah dan kehilangan kekuatanku?”  
 
Lalu dia menemui majikannya dan meminta maaf atas hasil kerjanya yang makin menurun, sambil mengatakan tidak mengerti apa yang terjadi.
 
Sang majikan bertanya kepadanya, “Kapan saat terakhir kamu mengasah kapak?”
 
Jawab pemotong kayu, “Mengasah kapak? Saya tidak pernah mengasah kapak karena saya sangat sibuk menebangi pohon. Saya tidak punya waktu lagi untuk mengasah kapak.”
 
Majikannya berkata, “Kamu tidak menyadari bahwa kapak itu makin lama makin menjadi tumpul karena tidak pernah kamu asah. Dengan kapak yang tumpul kamu tak akan mampu lagi menebangi pohon meskipun kamu mengeluarkan tenaga sebesar apa pun. Dan hasilnya kamu hanya akan kehilangan kekuatan.”
 
Kehidupan kita itu seperti kapak. Bila kita tak punya waktu untuk mengasah kapak, kita akan tumpul dan kehilangan kekuatan. Tidaklah salah dengan aktivitas dan kerja keras setiap hari. Tetapi tidaklah seharusnya kita sedemikian sibuknya sehingga mengabaikan hal-hal yang sangat penting dalam hidup, seperti kehidupan pribadi bersama Tuhan. Kita perlu menyediakan waktu untuk bertemu Tuhan dalam doa dan membaca FirmanNya. Itulah saat-saat kita mengasah hidup kita sehingga kita memiliki ketajaman untuk menjalani kehidupan ini. Jika tidak, hidup kita menjadi tumpul dan kehilangan kekuatan.**
 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Renungan Mingguan" Lainnya